IKLAN

Wawali Mangindaan, Hayati Kematian Yesus bersama Jemaat GMIM Siloam


Wakil Walikota Manado Harley Mangindaan bersama istri Seyla Kudati, merayakan hari jumat agung bersama dengan jemaat GMIM Siloam Dendengan Luar Wilayah Manado Timur I.

Wakil Walikota Manado Harley Mangindaan bersama istri Seyla Kudati, merayakan hari jumat agung bersama dengan jemaat GMIM Siloam Dendengan Luar Wilayah Manado Timur I.

MANADO – Memaknai kematian Yesus Kristus di Kayu Salib, sebagai penebusan dosa umat manusia, Wakil Walikota Manado Harley Mangindaan bersama istri Seyla Kudati, Jumat (03/04) pagi merayakan hari jumat agung bersama dengan jemaat GMIM Siloam Dendengan Luar Wilayah Manado Timur I.

Pdt. Meike Lumentut-Tulangouw, STh dalam Khotbanya mengatakan, kejahatan dan dosa manusia menjadi penyebab Yesus menderita dan mati di kayu salib. “Sesungguhnya kejahatan dan dosa kita manusia yang menyebabkan Yesus menderita dan mati di kayu salib, namun oleh kasih Allah maka Kristus yang adalah terang telah berkenan menerangi jalan-jalan kehidupan kita yang tidak sepi dari berbagai gelapnya pergumulan dan ancaman kehidupan” ungkap Pdt.Meike Lumentut-Tulangouw yang juga STh Ketua BPMJ Siloam Dendengan Luar.

Wakil Walikota Manado Harley Mangindaan bersama istri Seyla Kudati, saat mengikuti perjamuan khudus

Wakil Walikota Manado Harley Mangindaan bersama istri Seyla Kudati, saat mengikuti perjamuan khudus

Wawali Mangindaan ketika didaulat menyampaikan sambutan menyampaikan, bahwa melalui kematian Kristus, kita umat manusia tidak terpisah lagi dari dari Kasih KaruniaNya melainkan telah memperoleh jalan masuk untuk senantiasa menghadap hadiratNya dan menyerahkan berbagai persoalan hidup kita.

“Kemajuan zaman memiliki banyak dampak negatif. Kita dengan mudahnya mendapatkan kesenangan dan hiburan sebagai wujud penderitaan manusia, darah, kekerasan, dan kematian yang merupakan perbuatan dosa. Namun, Yesus yang telah mati menebus dosa manusia dari perilaku kita tersebut. Hendaklah peringatan Jumat Agung tidak hanya diperingati sebagai sebuah momentum seremonial akan tetapi dimaknai sebagai bagian dari penghayatan penderitaan Yesus di kayu Salib dengan pengabdian, jerih dan juang dalam kehidupan kita sehari-hari,” harap Bang Ai, sapaan akrab Wawali Manado itu. (Christian)