IKLAN

Waspada… Jika Tidak Anda Jadi Korban di Kota Ekowisata


Kondisi trotoar di Jalan Rike, depan Kantor Lurah Wanea, ambruk dan memakan korban, Rabu (26/8) malam. Warga yang melintas terperosok got kering dan mengakibatkan luka parah. (Foto: ist)

Kondisi trotoar di Jalan Rike, depan Kantor Lurah Wanea, ambruk dan memakan korban, Rabu (26/8) malam. Warga yang melintas terperosok got kering dan mengakibatkan luka parah. (Foto: ist)

MANADO – Kota Manado dianggap tidak pantas menyandang kota yang ideal menjadi daya tarik wisatawan mancanegara dan domestik. Pasalnya, daerah ini ternyata tidak ditunjang dengan fasilitas trotoar yang aman dan penerangan lampu jalan.

“Sedang warga lokal bisa jadi korban, apalagi turis asing dan wisatawan domestik. Sebaiknya pemerintah berhenti berilusi tentang kota nyaman, kalau infrastruktur seperti trotoar dan lampu jalan tidak mampu memberikan rasa nyaman bagi warga,” ungkap Agus Kim, warga Malalayang, Kamis (27/08).

Nasil sial yang dialaminya pria berparas ganteng ini, terjadi Rabu (26/08) sekira pukul 18.45 saat melintas di trotoar jalan Rike depan kantor Lurah Wanea. Saat melintas, kondisi yang gelap tiba-tiba trotoar ambruk.

Alhasil, tubuh kekarnya jatuh terperosok ke dalam drainase kering tersebut. “Saya mengalami luka sobek sepanjang 30 centimeter pada kaki bagian kanan dari lutut hingga paha.

Tiga per empat badan pria berkulit eksotis itu masuk dalam saluran air kering. “Kaki saya hampir patah. Luka sobek sepanjang 30 centimeter dari bawah lutut sampai paha kanan. Tulang rusuk bengkak. Pergelangan lutut mengalami dislokasi, kaki saya hampir patah,” ungkapnya.

Akibat kejadian ini, dia tidak akan menuntut pemerintah berlebihan. “Pemerintah cukup tahu diri saja. Karena rakyat bayar pajak, tapi entah kenapa diberi hadia trotoar berlubang dan lampu solla cel tidak berfungsi,” katanya.

Kritis pedas pun dialamatkan kepada DPRD dan Pemerintah. “Kerja mereka cuma kuras pendapatan daerah. Urat malu mereka sudah putus, sementara realisasi dan pengawasan pembangunan khususnya sarana publik tidak mampu,” kritiknya.

Ia menambahkan kalau hukum di Indonesia, insiden warga terperosok dalam trotoar memang tidak perlu menyalahkan pemerintah. “Kalau di Cina, saya pasti pidanakan pemerintah. Dan pemerintah harus ganti rugi warga yang menjadi korban keburukan sarana publik. Sayangnya, kita hidup di Indonesia,” pungkasnya. (christian)