IKLAN

Warga Keturunan Sangihe Mulai Merasa Resah dengan Kebijakan Menteri Susi


Warga keturunan Sangihe di General Santos Filipina

Warga keturunan Sangihe di General Santos Filipina

MANADO – Sejumlah warga keturunan Sangihe di General Santos (Gensan)  Mindanao Filipina Selatan mengaku mulai merasa resah dengan dampak sosial akibat kebijakan Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti. “Sejak November 2014 lalu, stok ikan segar mulai berkurang dan memukul banyak pabrik ikan di Gensan, sehingga berakibat pada ancaman pemutusan tenaga kerja warga Sangihe di sini,” kata Pendeta Yosapaht dan Fransine Wolf, kepada Yudhi Wijayanto, di Sekretariat Kepresidenan RI, akhir pecan lalu di Gensan.

Kedua tokoh Sangihe ini, mengatakan warga Filipina mulai mengaitkan kebijakan Menteri Susi dengan keberadaan warga Sangihe di Gensan. Kebanyakan warga Sangihe bekerja sebagai Anak Buah Kapal di semua kapal ikan di Filipina. Akibat kebijakan ini, pengusaha ikan di Filipina takut melaut di perairan Indonesia khususnya Sulut.

“Ikan disini sudah sulit, kapal sulit untuk melaut akibat kebijakan tersebut sehingga banyak ABK mulai dirumahkan,” kata Fransine Wolf, pendeta pelayanan di Gereja Pantekosta Gensan ini.

Hal senada diakui Pendeta Yosaphat yang melayani Gereja Gisi di Gensan, bahwa radio swasta di Gensan mulai menyindir kehidupan warga Sangihe. “Radio swasta di Gensan mulai menyindir kehidupan warga keturunan Sangihe di Gensan dengan perlakuan yang dianggap kasar oleh pemerintah di Indonesia terhadap nelayan dan kapal mereka,” kata Yosaphat.

Yudhi Wijayanto mahasiswa Universitas Indonesia (UI), mengaku saat mengunjungi kawasan pemukiman warga Sangihe di Gensan dan warga Talaud di Tibanban, Davao. Kunjungan ini dilakukan untuk melihat wilayah perbatasan Indonesia, juga ingin melihat kondisi perbatasan dari negara Filipina dan menggelar dialog dengan warga Sangihe di sana.

“Dalam dialog, kami mendengarkan isi hati para warga asal Sangihe terkait dampak sosial dari kebijakan tegas Menteri Susi,” ungkap Yudhi.

Diketahui, sejak ratusan tahun yang lalu banyak warga Indonesia asal Pulau Sangihe dan Talaud telah berlayar dan tinggal hingga kawin mawin di Pulau Mindanao. Data badan khusus PBB urusan pengungsi UNHCR pada 2013 lalu menyebutkan, warga dari dua pulau ini telah mencapai 4 ribuan yang diperkirakan terus menerus turun jumlahnya karena banyak yang memilih menjadi warga Filipina. (christian).

 

Manado Fiesta 2017