IKLAN

Sulut Terancam DBD, Dinkes Diminta Turun Tangan


Komisi Empat ketika melihat langsung pasien DBD di ruangan Irena E RSUP Manado

Komisi Empat ketika melihat langsung pasien DBD di ruangan Irena E RSUP Manado

MANADO – Sulut terancam wabah Demam Berdarah (DBD). Hal ini diakui langsung oleh Dirut RSUP Manado, dr. Maxi Rondonuwu ketika Komisi Empat DPRD Sulut melakukan sidak DBD di RSUP Manado.

Kepada wartawan Rondonuwu menjelaskan, penanganan penderita DBD di RSUP Manado masih terlayani dengan baik.

“Sampai saat ini penanganan penderita DBD masih bisa teratasi. Tapi tingkat kewaspadaan masyarakat harus ditingkatkan. Bahkan, peran Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulut sangat dibutuhkan seperti fogging di wilayah yang sudah ada kasus DBD,”papar Rondonuwu.

lanjut Rondonuwu, Peran penting Dinkes sangat dibutuhkan. Kalau tidak dipastikan untuk beberapa bulan ke depan sampai bulan Maret akan terjadi peningkatan pasien DBD.

” Jika tidak ada penenganan serius.Sudah pasti rumah sakit ini akan penuh dan kami akan kesulitan soal pelayanan” ujar Rondonuwu,.

Lanjutnya lagi, data bulan Januari hingga Februari 2016 ini berjumlah 30 pasien dan 11 pasien sudah dengue shock syndrome (DSS). “Jadi, sampai Jumat (5/2) masih ada 2 pasien yang dirawat dan belum ada pasien yang meninggal,” jelas mantan Kadis Kesehatan Sulut ini.

Sementara itu, James Karindra Ketua Komisi 4 saat dimintai tanggapan atas kunjungan itu mengaku cukup puas dengan pelayanan yang diberikan pihak rumah sakit.

“Selain penangan untuk pasien semakin cekatan, kebersihan juga semakin terjaga. Itu artinya terjadi peningkatan. Dan imbauan untuk Dinkes secepatnya turun tangan, biar tidak terjadi pembludakan pasien,” ungkap Karinda.

Dari data RSUP Manado  penyebaran DBD hampir merata di Kabupaten/ Kota di Sulut. Personil  komisi 4 yang ikut Sidak ke RSUP Manado,  Fanny Legoh, Inggrid Sondakh, Sisca Mangindaan, Lucia Taroreh. (mom)