IKLAN

Sidang Perdana Net Invest, Kuasa Hukum Focksy Langsung Ajukan Eksepsi


2016-10-11_07-31-59

Sidang perdana kasus net invest dengan terdakwa FR alias Focksy. (Foto eka)

MANADO – Pengadilan Negeri Manado akhirnya menggelar Sidang perdana kasus Net Invest dengan terdakwa FR alias Focksy pada Senin (10/10). Dihadapan majelis hakim yang diketuai oleh Vincentius Bannar, SH. MH, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rudy Kayadoe membacakan dakwaan atas kasus tersebut. Dari dakwaan itu, kemudian Kuasa Hukum terdakwa Farley Kaparang dan Franky Warbung langsung menyatakam Eksepsi atau nota keberatan.

Dalam dakwaan JPU, kasus yang juga melibatkan seorang terdakwa lainnya SSR alias Mita, merupakan perusahaan investasi yang menhimpun dana dari warga dengan bunga 100%. Perbuatan kedua terdakwa ini, berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2015, di Ruko Mega Smart 3, Jln AJ Sondakh, Kawasan Mega Mas, Kota Manado. Keduanya didakwa melakukan, menyuruh melakukan, turut serta melakukan perbuatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa ijin usaha dari pimpinan Bank Indonesia dengan cara mendirikan usaha dalam bentuk CV Net In.

Sebelumnya, kedua terdakwa menghadap ke Notaris Syane Loho 30 Juni 2015 dengan maksud mendirikan Perseroan Komanditer bernama CV Net In. Sesuai akta, CV yang didirikan bergerak dalam bidang usaha pembangunan dan perencanaan, perdagangan umum, peternakan, perikanan, pertanian, perkebunan, kehutanan, perindustrian, angkutan dan bengkel serta jasa, dimana terdakwa sebagai direktur sedangkan Mita sebagai Persero Diam.

Akan tetapi, terdakwa bersama Mita menjadikan Akta Pendirian tersebut sebagai dasar untuk menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk penanaman modal. Dimana keduanya mencari orang yang disebut partner, kemudian partner tersebut diberi tugas untuk menghimpun dana dari masyarakat. Keuntungan 100 persen pun dijanjikan terdakwa dengan jangka waktu 40-45 hari dengan investasi minimum Rp.60.000 dan maksimum Rp.3.600.000.

Alhasil, setelah merekrut beberapa partner, sejumlah investor pun langsung tertarik dengan menginvestasikan uang mereka sebelum akhirnya digerebek pihak kepolisian 28 Agustus 2015, di bawah pimpinan Kompol Erson Sinaga, Kasat Reskrim Polres Manado waktu itu.

Perbuatan terdakwa diduga merupakan tindak pidana dan dijerat pasal 46 ayat 1 UU No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan dan Pasal 55 ayat 1 KUHP. (ekaputra)