IKLAN

Save Yaki di CA Tangkoko


Sulawesi crested black macaque (Macaca nigra) in Tangkoko forest reserve, North Sulawesi. Photo: Andrew Walmsley May 2012

Sulawesi crested black macaque (Macaca nigra) in Tangkoko forest reserve, North Sulawesi.
Photo: Andrew Walmsley
May 2012

BITUNG-Populasi hewan jenis Yaki atau Macaca nigra yang banyak terdapat di Cagar Alam Tangkoko, sangat membantu ekosistim hutan, dimana yaki tersebut dapat menjaga kelestarian hutan dan sistim lingkungan juga dapat menjadi ikon pariwisata.

Hal ini disampaikan Wakil Walikota Bitung M.J Lomban saat meberikan sambutan dalam rangka pembukaan pameran yang bertajuk ‘Selamatkan Yaki’ bertempat gedung Kesenian Kecamatan Girian, Jumat (16/10).

“Yaki banyak tersebar di hutan primer dan hutan lindung di Sulut. Namun, paling banyak ditemui saat ini di Cagar Alam Tangkoko kota Bitung, Sayangnya populasi yaki makin menurun setiap tahun disebabkan ancaman utama yakni perburuan untuk dikonsumsi dan dipelihara oleh sebagian masyarakat.

“Untuk itu perlu kita sepakati untuk mendeklarasi ‘Selamatkan Yaki (Save Yaki)” sejak sekarang, dan tentunya pemkot siap mensosialisasikan program ini,“ ujar Lomban.

Sementara itu, Harry Hilser selaku Program Manager Selamatkan Yaki mengungkapkan, Penyebab utama menurunnya populasi yaki di tanah Minahasa (80% dalam kurun waktu 40 tahun), tidak lain adalah karena yaki selalu menjadi sasaran perburuanuntuk  diperdagangkan, dipelihar bahkan dikonsumsi.

“Adapun alasannya peduli terhadap yaki disebabkan yaki hewan yang enemik yang bisa menebar bibit guna membantu pertumbuhan dan pelestarian hutan yang berefek terhadap kehidupan terhadap masyarakat, “jelas Herry. (jones)