IKLAN

Para Tukang Ini Terharu Ketika Mahasiswa Asrama Samratulangi di Bandung Berbagi Kasih Paskah


Mahasiswa Sulut di Bandung foto bersama mulai dari tukang becak, tukang gunting rambut, pekerja asrama Samratulangi di Bandung usai berbagi kasih dalam rangkaian Paskah 2016

Mahasiswa Sulut di Bandung foto bersama mulai dari tukang becak, tukang gunting rambut, pekerja asrama Samratulangi di Bandung usai berbagi kasih dalam rangkaian Paskah 2016

BANDUNG – Meski jauh dari kampung halaman, namun Falsafah orang Minahasa; “Sitou Timou Tumou Tou (Orang Hidup Untuk Menghidupkan Orang Lain)” masih terus dipegang dan dijunjung tinggi para mahasiswa asli Kawanua di Kota Bandung.

Rangkaian Paskah 2016 belum lama ini, panitia rata-rata mahasiswa asal Sulut penghuni Asrama Samratulangi di Bandung, diantaranya  Yudie Dien, SE,MSi, Grace Dengah, Sofie Sembor, Kebri Payung, Andi Malik, Harvard Najoan, Glen Wowiling, Rinaldy Mamuaya, Stevan dan Stevan Sarajar berbagi kasih dengan membagi-bagikan sembako kepada para tukang becak, tukang cuci motor dan tukang gunting rambut yang ada di sekitar asrama di jalan Banda.

Tak ketinggalan, Bibi Wati dan Pak Ade, panggilan sehari-hari dua pekerja asrama Mahasiswa Samratulangi di Bandung yang sudah 20 tahun mengabdi. Sehari-hari keduanya harus menempuh 2 jam perjalanan sampai ke asrama melayani para mahasiswa Kawanua.

Hari Minggu itu, biasanya Bibi Wati dan Pak Ade tetap bekerja namun diliburkan khusus oleh penghuni asrama.  Mahasiswa Kawanua inipun melakukan kunjungan anjangsana ke rumah Bibi Wati dan Pak Ade.

“Nilai kebersamaan dan keperdulian kegiatan ini adalah mencontoh teladan Yesus Kristus yang lebih dulu mengasihi kita,” Kata Ketua Panitia, Yudie Dien saat memberikan diakonia berupa sembako kepada Bibi Wati dan Pak Ade.

Para mahasiswa Sulut yang sedang menempuh jenjang pendidikan Magister dan Doktor di ITB, UNPAD dan UPI di Bandung ini patut bersyukur ketika diberi kesempatan untuk perduli dan peka terhadap lingkungan sekitar dengan berbagi kebaikan kepada mereka yang membutuhkan sekalipun itu kelihatan kecil ketika dilihat dari harga.

Pemberian sembako ini juga membuat para tukang becak sangat senang dan bersyukur ternyata masih ada yang mau berbagi rejeki dengan mereka.

“Salah satu tukang becak saat foto bersama di samping saya, terlihat terharu. Suaranya tersendat hampir tak kedengaran saat mengungkapkan kalimat,” kata Grace Dengah mahasiswa yang sedang menempuh Program Doktor Sosiologi di Fisip UNPAD.

Sang Tukang becak itu membacakan doa bagi mahasiswa Sulut di Bandung. Dia mendoakan agar mahasiswa Sulut diberi umur panjang, dijauhkan dari bahaya dan kecelakaan. Diberikan kesehatan, murah rejeki, sekolah berhasil. “Pokonya doa-doa kami semua bisa dijawab oleh Allah SWT. Begitu mereka mendoakan kami,:” tambah Grace.

Bagi kasih ini tidak hanya tahun ini dalam rangkaian Paskah. Namun setiap tahun, penghuni Asrama Samratulangi mengagendakan diakonia dan anjangsana ke Panti Asuhan dan Panti Werda di Bandung.

“Ini sebagai wujud nyata kehadiran orang-orang Sulut di Bandung walaupun dalam kesibukan kuliah tetap memegang teguh Falsafah Sitou Timou Tumou Tou Orang; Hidup Untuk Menghidupkan Orang Lain,” pungkas mereka. (antoreppy)