IKLAN

Mengemis 40 Tahun, Hingga Kaki Tak Fungsi (Part II)


Wati Tani (74), penghuni lorong terminal Karombasan. Kesehariannya mengemis, keadaan kaki terlipat jadi ciri khasnya, Senin (1/9) (foto:Kandi/manadoline)

Wati Tani (74), kesehariannya mengemis sejak umur 34 tahun, keadaan kaki terlipat jadi ciri khasnya, Senin (1/9) (foto:Kandi/manadoline)

Sekira pukul 09.00-20.00 Wita, Waki (74) panggilan akrabnya mulai terbiasa berada di lorong yang diantar orang dekatnya,”kata pedagang Bajo.

“Dulu, sehari bisa dapat Rp 200 ribu sekarang rata-rata hanya Rp 90-100 ribu, uangnya disimpan sendiri karena saya tidak punya istri dan anak,”tutur Waki dengan kata-kata tak terlalu jelas.

Sejak 34 tahun mengemis, rasanya tak lelah dibenak Waki karena menurutnya jadi pengemis gampang-gampang susah, susahnya banyak sabar dan teriak-teriak.

Semakin siang, semakin ramai banyak yang memberi kepada Waki. Tak tanggung-tanggung teriakannya semakin keras di lorong tersebut.

Menurut para pedagang, Dinas Sosial Kota Manado belum menghampiri Waki karena mungkin tempatnya tersembunyi padahal banyak orang lewat.

Buktinya, rasia yang dilakukan Dinas Sosial Manado kerja sama dengan Dinas Sosial Provinsi beberapa waktu lalu, tempat Waki tak tersentuh.

Padahal keadaan fisik sudah tua, akibatnya kaki tak berfungsi sehingga tak layak lagi sebagai pengemis. Harapnya pemerintah menghampirinya**** (srikandipangemanan)

 

 

Manado Fiesta 2017