IKLAN

Features

Makna Hari Anak Nasional Sampai Ketiga Bocah Terpaksa Jualan Kulit Ketupat


Features

PERAYAAN HAN: Tepat H-1 Hari Raya Ketupat ketiga bocah SD Frits Salindeho (tengah), Dejandri Abas ( kiri), Alfindo Lokor (kanan) rela berjualan kulit ketupat di Pasar Bersehati demi mendapatkan uang sekolah, Kamis (23/7) (foto: Kandi/manadoline)

PERAYAAN HAN: Tepat H-1 Hari Raya Ketupat ketiga bocah SD Frits Salindeho (tengah), Dejandri Abas ( kiri), Alfindo Lokor (kanan) rela berjualan kulit ketupat di Pasar Bersehati demi mendapatkan uang sekolah, Kamis (23/7) (foto: Kandi/manadoline)

MANADO-Raut kelelahan ditengah teriknya matahari terpancar jelas dari tiga bocah lugu pada keramaian Pasar Tradisional Pasar Bersehati Manado, sejak dini hari sekira pukul 02.00 Wita Kamis (23/7), ketiganya terpaksa berjualan kulit ketupat demi sekolah.

Padahal Indonesia tepat hari ini (Kamis-red) merayakan Hari Anak Nasional (HAN) moment untuk menggugah kepedulian, menghormati, menghargai dan menjamin kelangsungan hidup dan tumbuh kembangnya.

Kulit ketupat dari daun kelapa sering disebut Maboro tersebut, ditenteng diikuti alunan nada keras hingga sampai serak “ketupat”, “ketupat”, “ketupat”! oleh ketiga bocah. Langkah cepat dikejar waktu, melihat persaingan pedagang lumayan banyak menjual kulit ketupat.

Salah satu dari mereka Frits Salindeho (9) warga Mayondi Lingkungan III Kecamatan Singkil mengaku suar lelah berjualan demi orang tua dan sekolah.”Orang tua hidup mencari sehari habis sehari, saya sayang mereka bukan dengan terpaksa berjualan tapi sadar berdiam diri tak cukup untuk menghidupi kebutuhan keluarga,”curhatnya.

Genggaman penuh kulit ketupat dengan harga Rp 5 ribu berisi 10 buah seikat itu, sebelum menjual mereka menganyam sendiri pada dini hari (Kamis-red) tepat hari itu perayaan HAN mereka berjualan. Kulit semakin kehitaman, baju kusam dan bau, keringat sampai membasahi pakaian, tak putus semangat terlihat keceriaan saat wartawan www.manadoline.com menghibur dan bercanda bersama mereka.

Kedua bocah lainnya Dejandri Abas (11), Alfindo Lokor (11) warga yang sama bersekolah di SDN 88 Kombos Timur Kecamatan Singkil mengakui saat perayaan Hari Raya Ketupat mereka tak pernah absen berjualan kulit ketupat di pasar tersebut, keuntungan tak seberapa hanya Rp 2 ribu per ikatnya dan Rp 3 ribu setor ke orang tua.

Suasana tengah hari semakin mengguras tenaga, dengan ekspresi mata berkaca-kaca hampir air mata membasahi pipih, ketiganya memiliki harapan di Hari Anak Nasional tepat dimana hari pertama berjualan kulit ketupat sampai beberapa hari kedepan.

Mereka ingin gembira dan bersuka cita seperti anak lainnya.”Bukan kami menyalahkan orang tua dengan keadaan seperti ini, kami akan berusaha mohon bantuan pemerintah perhatikan kesejahteraan lewat sekolah dan kegiatan menghasilkan sesuatu demi masa depan kami,”curhat mereka.

Sebagai refleksi dan analisis, kedepan anak-anak tidak lagi menjadi korban eksploitasi dan kekerasan, tetapi mereka dapat menikmati masa-masa indahnya keceriaan anak-anak sesungguhnya, mendapat kehangatan cinta orang tua terlebih membentuk karakter agar bisa sekolah jangan sampai putus tengah jalan. (srikandipangemanan)

 

Manado Fiesta 2017