IKLAN

Jangan Sampai Sistem Pembangunan Berkelanjutan Terputus

GSVL Punya Kans Wali Kota Lagi, Liando: Sisi Politis Masih Harus Berjuang


Jangan Sampai Sistem Pembangunan Berkelanjutan Terputus

Ferry Liando

Ferry Liando

MANADO—Banyak kalangan memprediksi, Pilwako Manado tahun ini ada beberapa tokoh akan maju bertarung. Meski belum ada yang mau buka mulut di media, namun Goodbles Sofcard Vicky Lumentut (GSVL) sudah secara terang-terangan mengungkapkan niatnya untuk maju kembali periode 2015-2020.
Ungkapan tulus GSVL itu bak gayung bersambut ditanggapi pengamat politik dan pemerintahan yang juga akademisi, Ferry Liando. Kepada wartawan manadoline.com, Liando menilai sangat tepat jika GSVL menjabat orang nomor satu untuk kedua periode ini. “Saya melihat ini dari aspek akademisi karena mengacu pada sistim pembangunan berkelanjutan,’’ katanya.
Menurutnya, masa kerja 5 tahun bagi seorang kepala daerah memang tidak cukup. Apalagi revisi RPJMD Kota Manado baru ditetapkan. “RPJMD itu berisi visi misi dari Wali Kota yang disampaikannya pada saat kampanye pemilukada.’’ Jelasnya.
Jika dalam jangka 5 tahun sudah terjadi pergantian Wali Kota, maka RPJMD itu tidak mungkin diberlakukan lagi karena Wali Kota baru punya visi misi yang mungkin berbeda dengan Wali Kota terdahulu.
“Dengan demikian RPJMD pasti akan di revisi lagi. Karena secara politis tidak mungkin RPJMD Wali Kota terdahulu akan dijalankan oleh walikota baru,’’ urai Liandi. Itulah sebabnya, menurut Liando, UU 32 tahun 2004 sebagaimana direvisi dengan UU 23 tahun 2014 mengamanatkan ketentuan masa kerja 2 periode atau 10 tahun. “Namun jangka waktu tersebut ada pemilukada sela seperti mekanisme pemilu sela di Amerika Serikat. Pada masa 5 tahun menjabat Wali Kota, dilakukan pemilihan kembali dalam rangka evaluasi public,’’ kata Liando. Kecuali, katanya, jika mereka senang dengan kebijakan pemimpinanya maka mereka akan memilih kembali untuk 5 tahun berikutnya. Jika tdk senang maka publik tidak akan memperpanjang jabatannya. “Itu perhitungan akademisinya. Tapi perhitungan politisnya belum tentu pernyataan Pak Lumentut menjadi keinginan public,’’ tegas Liando. Apalagi pemilih di Kota Manado sgt pragmatis dan irasional. “Yaitu melihat calon bukan pada kapasitas dan pengabdian tetapi ditentukan oleh hadiah, kesamaan etnik dan kesamaan kepercayaan,’’ pungkasnya. (anre)