IKLAN

BKD Sulut Ungkap Hasil Konfrontasi Wadir Ratumbuysang yang Diduga Lakukan Perbuatan Amoral


Ilustrasi

Ilustrasi

MANADO-Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sulawesi Utara (Sulut) Femmy Suluh mengatakan kasus dugaan permuatan amoral oknum Wakil Direktur (Wadir) dan Keuangan Rumah Sakit Jiwa Ratumbuysang berinisial HP (50-an) terhadap salah satu stafnya berinisial RA, belum ada kepastian fakta salah satu pihak hingga hari ini, Selasa (11/10).

Pasalnya, Suluh mengakui pihaknya belum cukup bukti.”Kami sudah konfrontasi kedua pihak baik oknum Wadir dan RA pagi tadi (Selasa-red), seharusnya suami RA harus datang tapi tidak hadir. Otomatis belum bisa memastikan karena yang melapor suami RA,”jelas Suluh saat berada di ruang Mapalus Kantor Gubernur, Selasa (11/10) sore tadi.

Dikatakannya, alasan suami korban belum sempat hadir karena sedang bertugas di luar kota (Batam-red).”Tapi, kami menunggu diusahakan secepatnya suami RA harus beri keterangan langsung ke BKD agar masalah ini cepat selesai,”beber Suluh, sembari menambahkan kasus tersebut tidak usah dipersoalkan karena dugaan amoral yang dilakulan Wadir hanya percakapan ringan saja via masangger facebook (pengakuan HP/Wadir dan RA-red).

Lanjutnya, pejabat publik harus menjaga etika, segala pengaduan harus klarifikasi karena institusi. Kasus ini, belum bisa dikatakan benar atau salah,”terangnya.

Sementara Kepala Bidang Pembinaan dan Pengawasan BKD Sulut James Kewas, menambahkan, memang benar Selasa (11/10) sudah di konfrontir. Perbuatan HP ke RA hanya via masseger facebook saja April 2016 lalu dan melaporkan Agustus belum lama ini. Tidak ada tindakan-tindakan aksi.

Keduanya sudah mengakui dan minta maaf. “Ibaratnya kekeliruan tapi karena ada laporan kami respon. BKD masih menelusuri, ini belum final. Kalau sesuai PP 53 Tahun 2010 tentang disiplin Pegawai Negeri Sipil kami hanya berikan sanksi mengarah ke teguran lisan. Jadi masih menunggu suami RA berbicara di BKD,”jelas Kewas yang mengakui mendampingi kepala BKD saat lakukan konfrontir ke dua pihak.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw kepada wartawan saat berada di Kantor Gubernur, Selasa (11/10) malam ini menegaskan belum mendapat laporan terkait dugaan kasus tersebut.

Versi Suami RA….

Diketahui Diketahui, kasus dugaan amoral terbongkar setelah aduan suami dari RA ke Gubernur Sulut Olly Dondokambey.

Pasalnya, oknum HR dituduh melakukan perbuatan amoral yakni menganggu istri sah dari pelapor. Bukti pelapor terhadap laporan dilayangkan ke Gubernur itu berupa percakapan keduanya melalui media sosial (facebook dan BBM).

Dimana dalam percakapan dibahas bukan masalah tugas-tugas kantor dan tak menunjukkan antara staf dan pimpinan, tetapi sudah mengarah ke hal-hal negatif.

Menurut pelapor, kronologisnya pada 24 Maret 2016 sekira pukul 11.19 Wita, istrinya menerima pesan singkat dari HP lewat inbox facebook.

Pesan dimaksud hanya berbentuk gambar jempol atau like. Pesan tersebut tidak ditanggapi istri pelapor.

Sekira pukul 11.41 Wita, HP kembali mengirim pesan berbentuk pertanyaan singkat kalau istri pelapor tinggal dimana dan dijawab sesuai fakta tinggal di Sario Tumpaan. Obrolan tersebut oleh pelapor masih dianggap wajar.

Pada 10 April HP kembali mengirim pesan singkat isinya pujian foto istri pelapor. Obrolan ini terus berlanjut dengan berbagai pertanyaan dari HP dan mengarah kesesuatu tidak beres.

Dimana HP meminta istri pelapor kalau bisa melayaninya dengan obrolan-obrolan apa saja karena bersangkutan sering tidur sampai larut malam.

Pesan dari HP lewat BBM terus berlanjut bahkan semakin tidak sopan. HP secara terang-terangan mengutarakan keinginannya untuk bertemu istri pelapor diluar jam kantor.

Tidak hanya sebatas menemaninya dalam obrolan, tetapi sudah mengarah ke sesuatu hal yang menurut pelapor sangat tidak sopan dan tak wajar disampaikan seorang pejabat negara.

Lanjut pelapor ulah dari HP sudah sangat jauh dari tindakan beretika dan sudah sangat meresahkan pelapor dan istrinya. Apalagi pelapor bekerja di Batam. Secara jarak sangat jauh dengan istrinya di Manado.

Terpisah, Pengamat Pemerintahan Sosial dan Pemerintahan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Jefry Paat mengungkapkan kasus tersebut semestinya sebagai pejabat tidak lakukan perbuatan amoral.

Ia beralasan ada 3 hal yang harus diperhatikan, yakni pertama dia sebagai pejabat dalam arti bahwa dia harus berikan pengayoman pembinaan kepada bawahannya tapi kalau itu tidak lakukan, dia sudah melanggar sumpah tanggung jawabnya.

Kedua, sebagai individu berperilaku harus berikan contoh kepada bawahan agar menunjukkan moral baik. Kalau tidak dilaksanakan orang ini perlu ditinjau baik soal jabatan dan perilaku sebagai ASN.

Ketiga, sebagai orang tua tentu harus melakukan perbuatan lebih baik dalam arti merasa saudara dan teman.

“Itu kan punya niat tertentu terhadap orang lain. Walaupun hanya sebatas media sosial bbm contohnya. Pertama Ia coba-coba kalau ada respon berarti ada niat, timbul niat itu. Walaupun begitu sudah ada niat, sebab sebagai atasan tidak harus melakukan pertanyaan seperti itu terlalu jauh terhadap bawahan,”jelas Paat kepada Manadoline, belum lama ini.

(srikandipangemanan)

 

Manado Fiesta 2017