IKLAN

Ayo Siapa Menyusul, Sudah 16 Pria Kotamobagu Ikut KB Vasektomi


 

Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan Perempuan & Keluarga Berencana (BPMD, PP & KB) Pemkot Kotamobagu. (f-manadoline)

Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan Perempuan & Keluarga Berencana (BPMD, PP & KB) Pemkot Kotamobagu. (f-manadoline)

KOTAMOBAGU – Tercatat sudah 16 pria di Kota Kotamobagu yang mengikuti program vaksetomi atau metode operasi pria. Untuk itu Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMD, PP dan KB) Kota Kotamobagu terus mensosialisasikan pentingnya program tersebur bagi kaum adam. Kepala BPMD PP dan KB, Hj Sitti Rafiqah Bora SE mengatakan program KB vaksetomi ini adalah prosedur bedah minor. Di mana deferentia vasa manusia terputus dan kemudian diikat. “Program KB ini juga bukan hanya untuk kalangan ibu-ibu saja. Tetapi pria juga bisa ikut,” kata Rafiqah Kamis (26/3). Mantan Kabag Humas Pemkot Kotamobagu menambahkan rata-rata pria yang ikut KB vaksetomi mengaku nyaman. Bahkan tidak ada efek samping yang mereka rasakan. “Vaksetomi ini sama dengan KB yang biasanya dilakukan bagi kalangan ibu-ibu saja. Hanya bedanya, kalau ibu-ibu ada beberapa macam KB,” kata dia. Vasektomi lanjutnya adalah program KB seperti ini yakni pengikatan dan pemotongan saluran benih pada laki-laki. Menurutnya, program KB untuk kaum laki-laki ini ada dua jenis pelayanan yakni dengan menggunakan alat kontrasepsi kondom atau vasektomi. Bagi pria yang memilih progam KB vasektomi ini tidak bisa lagi membuahi istrinya karena saluran benihnya sudah diikat. “Otomatis sudah tidak reproduksi lagi. Itu tujuannya menurunkan angka kelahiran,” tambahnya. Maka dari itu, sebelum melakukan vasektomi pihaknya selalu memberikan solusi lain dalam ber-KB seperti menggunakan kondom, kecuali pasangan tersebut sudah menentukan sikapnya untuk vasektomi baik dengan alasan tidak ingin memiliki anak lagi atau masalah umur dan lain-lain. Di sisi lain, dia mengatakan untuk akseptor pria saat ini jumlahnya masih rendah atau sedikit, karena mayoritas akseptor di Kota Kotamobagu lebih memilih sterilisasi oleh kaum wanita atau istrinya. Menurutnya, mereka beralasan para istri lebih cocok ikut program KB. (mara)