IKLAN

Aksi di DPRD Manado Ricuh, Massa Merusak Meja dan Kursi dalam Ruang Paripurna


MASSA: Nampak koorlap berusaha menenangkan massa yang mulai merusak fasilitas dalam ruang paripurna. (foto:mejkel/manadoline)

MASSA: Nampak koorlap berusaha menenangkan massa yang mulai merusak fasilitas dalam ruang paripurna. (foto:mejkel/manadoline)

MANADO – Aksi Aliansi Masyarakat Minahasa di gedung DPRD Kota Manado, Senin, (15/06), berakhir ricuh. Pasalnya, sejumlah peralatan dalam ruang paripurna hancur setelah puncak kekesalan massa atas ketidakpastian surat rekomendasi terhadap lahan eks kampung texas.

Berawal dari dibuatnya surat rekomendasi oleh pihak DPRD kemudian sebagian anggota dewan belum menantatangani surat tersebut, membuat massa dalam ruang paripurana berubah marah. Bahkan, puncaknya ketika massa menghendaki surat rekomendasi tersebut harus memiliki nomor surat dan distempel DPRD Kota Manado, namun anggota dewan Benny Parasan hanya bisa mengiyakan dengan memberi penomoran surat tersebut.

RUSAK: Meja, kursi dan papan nama sejumlah anggota DPRD Kota Manado, dirusak massa dalam aksi tersebut. (foto:mejkel/manadoline)

RUSAK: Meja, kursi dan papan nama sejumlah anggota DPRD Kota Manado, dirusak massa dalam aksi tersebut. (foto:mejkel/manadoline)

“Kami hanya bisa memberi nomor dalam surat rekomendasi ini. Menyangkut cap sekretariat DPRD, tidak bisa dilakukan karena aturannya cap melekat kepada pimpinan DPRD Kota Manado,” kata Benny Parasan.

Pukul 15.20 Wita, keinginan massa beralih kepada permintaan menghadirkan tiga pimpinan DPRD untuk menandatangani surat rekomendasi tersebut, termasuk semua anggota dewan karena mereka mengetahui bahwa pada jam tersebut seharusnya sudah dilakukan rapat paripurna DPRD. “Mana pimpinan dewan, kami mau tiga pimpinan dewan harus hadir termasuk semua anggota dewan yang ada untuk menandatangani surat ini,” teriak massa.

Karena pimpinan dan anggota dewan tidak mau meladeni keinginan massa, mereka kemudian mengambil alih tempat duduk pimpinan dan menggelar deklarasi dewan adat. “Hari ini, kantor dewan ini kami ambil alih. Kita deklarasikan dewan adat di rumah rakyat ini,” kata koorlap Wellem Sigar.

Karena surat rekomendasi terkesan diperlambat, kekesalan mereka memuncak dengan merusak fasilitas dalam ruang paripurna tersebut. Mereka mengobrak-abrik meja dan kursi dalam ruang paripurna tersebut.

“Kami sudah menunggu dan memberi waktu yang cukup kepada wakil rakyat, tapi memperlambat untuk mengeluarkan rekomendasi dan kami kecewa, apalagi tidak ada satupun anggota dewan dalam ruangan ini. Kawan-kawan menjadi marah dan membongkar meja dan kursi,” ujar Wellem, yang berusaha menenangkan massa yang ada dalam ruang paripurna.

Massa Aliansi Adat Minahasa langsung keluar dari ruang rapat paripurna, dan memilih menuju lokasi lahan eks kampung texas. Dari pantauan manadoline.com, tampak meja, kursi yang menjadi sasaran kemarahan massa menjadi rusak, bahkan sejumlah papan nama sejumlah anggota dewan ikut dirusak massa. “Wartawan jangan sentuh, biar jo samua bagitu,” ujar salah satu staf sekretariat dewan, yang meminta wartawan untuk tidak menyentuh barang-barang yang dirusak massa. (christian)